Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat wawasan global mahasiswa melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional bertajuk “Contextual Economics Education: Building Sustainable Financial Literacy through Children’s Geographies.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa ( /2026) di Ruang Aula Gedung D7 Lantai 2 UM
Kuliah tamu ini menghadirkan Aireen Grace Andal dari The International Institute for Asian, Leiden sebagai narasumber. , beliau memberikan wawasan mengenai pentingnya pendekatan kontekstual dalam pendidikan ekonomi, khususnya dalam membangun literasi keuangan yang berkelanjutan pada anak.
Dalam pemaparannya, Aireen menyoroti bahwa literasi keuangan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman keseharian anak. Melalui pendekatan children’s geographies, lingkungan sosial, budaya, dan ruang tempat anak tumbuh memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman mereka terhadap konsep ekonomi.
Aireen Grace T. Andal menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh di kampung-kampung Indonesia memiliki kemampuan untuk membayangkan berbagai skenario masa depan yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan dan pergeseran mata pencaharian. Perspektif ini menunjukkan adanya pemahaman yang intuitif sekaligus kompleks terhadap dinamika perubahan ekonomi dan peluang yang muncul di sekitarnya.
Menurutnya, cara pandang tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai praktik keuangan berkelanjutan. “Such visions foster meaningful discussions on sustainable financial practices, including the importance of saving for future needs, adapting to environmental dynamics, and planning across multiple time horizons,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa literasi keuangan tidak seharusnya diajarkan secara terpisah dari konteks kehidupan sehari-hari. Dengan mengaitkan pembelajaran ekonomi pada pengalaman nyata anak, proses pendidikan menjadi lebih relevan, bermakna, dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menguraikan implikasi praktis dari pendekatan tersebut melalui contoh program money tree yang diterapkan di kawasan Asia Tenggara. Program ini dirancang untuk membantu anak-anak memahami asal-usul uang melalui pendekatan yang sederhana dan kontekstual. “Of course, money doesn’t grow on trees. But where do we get money? You have to work in order to earn it,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan semacam ini penting untuk mendorong anak berpikir kritis tentang konsep uang sejak dini. Alih-alih hanya memberikan penjelasan abstrak, anak-anak diajak untuk menyadari bahwa uang tidak muncul secara instan, melainkan diperoleh melalui proses kerja. Dengan demikian, mereka dapat lebih memahami nilai uang dan mulai membangun kesadaran finansial sejak usia dini, dengan seluruh peserta yang hadir untuk mengabadikan momen tersebut.
Pewarta: Dwi Putri Salsabila — Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia