Marine Circular Innovation Dorong Kemandirian Blue Economy Desa Patuguran melalui Diversifikasi Produk Laut dan Wisata Bahari

Pasuruan — Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir terus dilakukan melalui pengembangan potensi sumber daya laut yang bernilai tambah dan berkelanjutan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Marine Circular Innovation: Optimalisasi Diversifikasi Produk Laut Melalui E-Minsa (E-Mina Sentosa), Blue Expo (Pembuatan Paket Wisata), dan Patuguran Exploration Menuju Kemandirian Blue Economy Desa Patuguran.”

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa yang terdiri atas Alif Faruqi Febri Yanto sebagai ketua, Dudung Ma’ruf Nuris dan Lulu Nurul Istanti sebagai anggota dosen, serta Fifi Maulida dan Bilqis Rizqia sebagai anggota mahasiswa. Program ini menggandeng dua kelompok masyarakat Desa Patuguran, yaitu Poklahsar Mina Sentosa yang beranggotakan 12 orang dan Pokdarwis JWMP Desa Patuguran yang beranggotakan 20 orang.

Program Marine Circular Innovation dirancang untuk mengoptimalkan potensi ekonomi kelautan Desa Patuguran melalui integrasi antara pengolahan hasil laut, diversifikasi produk, digitalisasi pemasaran, serta pengembangan wisata berbasis potensi lokal. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah potensi sumber daya laut yang selama ini belum sepenuhnya optimal menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Salah satu bentuk intervensi utama dalam kegiatan ini adalah pengadaan alat penggiling ikan bagi Poklahsar Mina Sentosa. Pengadaan peralatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi proses produksi olahan hasil laut. Dengan adanya alat penggiling ikan, proses pengolahan bahan baku dapat dilakukan secara lebih cepat, konsisten, dan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan pesanan konsumen.

Dukungan peralatan produksi tersebut memberikan dampak terhadap peningkatan kapasitas usaha mitra. Dalam pelaksanaan program, produksi olahan ikan Mina Sentosa mampu mendukung peningkatan permintaan hingga mencapai 1.500 pesanan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa penguatan sarana produksi tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produk, tetapi juga membuka peluang bagi kelompok masyarakat untuk memperluas pasar dan meningkatkan aktivitas ekonomi berbasis hasil laut.

Selain penguatan sektor pengolahan hasil laut, program juga mengembangkan konsep E-Minsa (E-Mina Sentosa) sebagai bagian dari optimalisasi pemasaran dan penguatan identitas produk lokal. Pemanfaatan pendekatan digital diharapkan dapat membantu mitra dalam memperkenalkan produk olahan laut secara lebih luas, meningkatkan jangkauan konsumen, serta membangun ekosistem pemasaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Gambar 1. E-Minsa

Sementara itu, melalui Blue Expo, tim PkM bersama Pokdarwis JWMP mengembangkan potensi wisata Desa Patuguran dengan menyusun paket wisata berbasis potensi lokal. Pengembangan paket wisata menjadi bagian penting dalam strategi diversifikasi ekonomi karena masyarakat tidak hanya memperoleh nilai ekonomi dari hasil laut dalam bentuk produk olahan, tetapi juga dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

Gambar 2. Blue Expo

Konsep tersebut kemudian diperkuat melalui Patuguran Exploration, yaitu upaya mengeksplorasi dan mengemas potensi desa sebagai destinasi yang memiliki daya tarik ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pengembangan wisata berbasis masyarakat diharapkan dapat menciptakan keterkaitan antara sektor perikanan, UMKM, kuliner, jasa wisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat lainnya.

Integrasi antara pengolahan hasil laut dan pariwisata tersebut menjadi karakter utama Marine Circular Innovation. Sumber daya laut tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, pengalaman wisata, dan identitas ekonomi lokal. Pendekatan ini sekaligus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan pesisir.

Gambar 3. Patuguran Exploration

Kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya melalui penguatan kapasitas usaha masyarakat, peningkatan produktivitas, perluasan peluang pasar, serta pengembangan aktivitas ekonomi lokal. Peningkatan kapasitas produksi hingga 1.500 pesanan menjadi salah satu indikator bahwa intervensi pada sektor produktif dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kelompok masyarakat.

Gambar 4. Proses Produksi Poklahsar Mina Sentosa

Di sisi lain, program ini juga memiliki keterkaitan erat dengan SDGs 14: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production)terutama dalam konteks pengembangan ekonomi kelautan (blue economy) yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya laut secara produktif sekaligus berkelanjutan. Pengembangan produk olahan hasil laut dan wisata pesisir diarahkan agar potensi kelautan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok pengolah hasil perikanan, kelompok sadar wisata, serta masyarakat Desa Patuguran, Marine Circular Innovation diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi masyarakat pesisir yang mengintegrasikan inovasi, digitalisasi, diversifikasi produk, dan pariwisata berbasis potensi kelautan. Ke depan, program ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi berkembang menjadi ekosistem ekonomi lokal yang mampu menciptakan peluang usaha baru, memperkuat kemandirian kelompok masyarakat, meningkatkan daya tarik wisata Desa Patuguran, dan memberikan nilai tambah terhadap sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Dengan demikian, Marine Circular Innovation menjadi salah satu langkah konkret dalam mewujudkan kemandirian Blue Economy Desa Patuguran sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 8 dan SDGs 12.